Darul Falah Cimenteng Bangun Literasi Pesantren

Darul Falah Cimenteng Bangun Literasi Pesantren Darul Falah cimenteng

PMDarulFalah – Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati rangking ke-62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi.

Literasi berkaitan dengan kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan. Kedalaman pengetahuan ini diperoleh dari kemampuan memahami informasi yang dilakukan dengan membaca. Menurut data UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Artinya, minat bacanya sangat rendah dengan persentase 0,001 persen atau dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca

Bagaimana dengan Pesantren ? Saya kira potret diatas mewakili realitas yang ada di pesantren. Minat baca yang rendah, minimnya sarana perpustakaan dan koleksi buku-buku, serta model pembelajaran di pesantren, menjadi faktor-faktor yang menyebabkan literasi santri juga rendah.

Pagi ini, saya mendapat kesempatan berjumpa dengan sahabat lama saya. Setelah 30 tahun tidak pernah bertemu. Terakhir bertemu ketika kami lulus KMI Gontor tahun 1992. Setelah itu masing-masing menelusuri jalan hidup dan perjuangannya masing-masing. Muhammad Ihsanuddin Hasbi, asal banjarmasin Kalimantan yang saat ini berdomisili di Bogor. Saya tidak menyangka, saat ini Ihsan, panggilan akrabnya, sudah menjadi Kepala Perpustakaan sekaligus Staff Pengajar di salah satu sekolah terkemuka di Indonesia, Insan Cendekia Serpong. Bahkan Ihsan sudah 2 periode ini menjadi Ketua Umum ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia). Wah, sebuah jabatan dan amanah yang luar biasa.

Awalnya saya kontak Ihsan untuk meminta tolong dicarikan Psikolog yang bisa membantu untuk program penelusuran potensi minat dan bakat santri. Alhamdulillah dari koneksi Ihsan ini saya diperkenalkan dengan Pak Agus Pramudya, seorang psikolog senior BPPT dan Insan Cendekia Serpong yang berkenan mewakafkan profesinya untuk membantu Pondok Modern Darul Falah Cimenteng.

Mengetahui kapasitas dan pengalaman Ihsan dalam hal kepustakaan, pikiran saya langsung mengarah pada apa yang bisa “dimanfaatkan” dari beliau untuk kemajuan Pondok Modern Darul Falah Cimenteng. Sebagai pondok pesantren berbasis wakaf, darul falah sangat terbuka untuk berbagai support dan kontribusi semua pihak, yang ingin mewakafkan apa yang dimilikinya baik materi, waktu, pikiran, profesi, jaringan dan lainnya. Ketika saya sampaikan hal ini kepada Ihsan, gayung bersambut. “Saya sudah lama sekali ingin masuk ke pesantren, berkontribusi kepada pesantren, khususnya terkait dengan pengembangan literasi dan kepustaaan pesantren” begitu sambut Ihsan dengan penuh semangat. Selama ini saya banyak membantu sekolah-sekolah umum atau boarding school, tapi untuk kalangan pesantren masih belum ada yang serius untuk membenahi literasi dan kepustakaannya.

Sambil bercanda saya menyampaikan, “Kalo begitu kita mulai dari Pondok Modern Darul Falah Cimenteng. Kita bangun jaringan kepustakaan pesantren. Kita bikin Asosiasi Tenaga Perpustakaan Pesantren Indonesia (ATPPI), dan antum ketuanya”. Kang Hasbi memang sudah 2 periode ini memimpin ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia), malang melintang ke berbagai negara dan daerah di Indonesia.

Membangun literasi santri tidak sekedar dengan membangun gedung dan fasilitas perpustakaan yang bagus. Tapi ada hal yang lebih penting dan urgent. Yakni bagaimana membangun information skill di kalangan guru dan santri, membangun metodologi pengajaran berbasis problem solving, reading habbit serta 21 Century Skills.

Untuk memenangkan persaingan ke depan, santri harus dibekali dengan literasi baca tulis, kemampuan berkomunikasi, literasi numerasi yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berfikir kritis dan terstruktur. Metodologi pengajaran tidak melulu berbasis ceramah di kelas, tapi membawa santri pada problem solving, diantaranya dengan Big Six Information Skill yang diterapkan dalam setiap pembelajaran. Sehingga kehadiran perpustakaan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal, bukan sekedar ruangan dan pajangan.

%d blogger menyukai ini: