Selasa, 20 Oktober 2026
Oleh: K.H. Hasan Abdullah Sahal
Maziyah dan Mizah: Keunggulan yang Harus Dijaga
Kita memiliki maziyah dan mizah. Bagi kita, keduanya mungkin terasa biasa karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang tidak memilikinya, sesuatu yang biasa bagi kita bisa menjadi keistimewaan. Maziyah berarti keunggulan atau keistimewaan, sedangkan mizah adalah ciri pembeda yang menjadikan sesuatu berbeda dari yang lain. Dalam sebuah pertandingan, misalnya, selalu ada pemain pembeda yang menentukan keunggulan timnya. Demikian pula dalam pendidikan, kita tidak cukup hanya memiliki kelebihan; kita harus mempunyai karakter yang membedakan. Karena itu, maziyah dan mizah Gontor harus dijaga, dipelihara, dan diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Disiplin: Menghormati Diri dan Menjaga Kehormatan
Salah satu maziyah dan mizah Gontor adalah disiplin. Dalam setiap acara sejak 100 tahun lalu, Pimpinan hadir lima menit sebelum acara dimulai, kemudian acara dilaksanakan tepat waktu. Inilah contoh sederhana bahwa disiplin bukan sekadar ucapan, melainkan keteladanan dan tindakan nyata. Seratus tahun perjalanan Gontor harus menjadi momentum untuk semakin mengokohkan tradisi disiplin. Hormatilah diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang terhormat dan menjauhi hal-hal yang tidak terhormat. Orang yang tidak menghargai dirinya sendiri tidak pantas berharap dihargai orang lain. Jangan menjadi pribadi yang mencla-mencle, tidak konsisten, atau esuk dele sore tempe. Keteguhan sikap, konsistensi tindakan, dan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan adalah tanda kehormatan seseorang. Tidak ada kemajuan tanpa disiplin, tidak ada disiplin tanpa keteladanan, dan tidak ada keteladanan tanpa pengorbanan.
Disiplin sebagai Cermin Kepribadian
Disiplin mencerminkan kepribadian seseorang. Untuk mengenali kualitas seseorang, jangan hanya melihat apa yang dikatakan atau ditampilkannya di hadapan orang lain, tetapi perhatikan bagaimana ia menggunakan waktunya. Apa yang dikerjakannya pada pukul 03.00? Apa yang dilakukannya pada pukul 04.00? Apakah ia masih tidur ketika waktu yang berharga seharusnya digunakan untuk beribadah dan mempersiapkan diri? Kebiasaan mbangkong tidak layak dijadikan teladan. Sepertiga malam terakhir merupakan waktu yang utama untuk berdoa, sedangkan salat Subuh berjamaah memiliki keutamaan besar. Sangat disayangkan apabila kesempatan berharga itu disia-siakan. Ketika Syaikh al-Azhar bertanya kepada Pimpinan Gontor tentang waktu bangun santri, jawaban bahwa mereka sudah harus bangun sebelum Subuh membuatnya senang. Hal ini menunjukkan bahwa disiplin waktu bukan perkara kecil, melainkan cerminan kesadaran akan nilai, kepentingan, dan tujuan hidup.
Tidur, Kesehatan, dan Pertolongan Allah
Disiplin juga berarti mengatur waktu tidur, bangun, mandi, beribadah, belajar, dan beristirahat secara tepat. Semua itu merupakan nikmat dan karunia Allah yang harus disyukuri dengan penggunaan yang bertanggung jawab. Al-Qur’an menggambarkan pertolongan Allah kepada kaum Muslimin dalam Perang Badar melalui firman-Nya: (QS. al-Anfal: 11).
Allah memberikan rasa aman melalui kantuk, menurunkan hujan untuk menyucikan kaum Muslimin, menghilangkan gangguan setan, meneguhkan hati, dan memperkokoh pijakan kaki mereka. Ayat ini mengajarkan bahwa kesiapan menghadapi perjuangan mencakup ketenteraman jiwa, kebersihan, kekuatan hati, dan kesiapan fisik. Disiplin bukan berarti mengabaikan kebutuhan tubuh, melainkan menempatkan istirahat, ibadah, dan aktivitas pada waktunya agar seluruh potensi dapat digunakan secara optimal. Kesehatan pun merupakan modal penting dalam pendidikan dan pengabdian. Ketika Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri berkunjung ke Gontor, beliau pernah mengungkapkan keheranannya karena tidak melihat santri-santri yang sakit, sebagaimana seorang dokter yang justru bertanya mengapa mereka tampak sehat. Kisah ini mengingatkan kita bahwa pendidikan harus memperhatikan kesehatan jasmani sekaligus kekuatan ruhani dan kecerdasan intelektual.
Pendidikan Holistik: Mengembangkan Seluruh Potensi
Setiap orang bekerja menurut kecenderungan, kemampuan, dan potensinya masing-masing. Allah berfirman,— “Katakanlah, setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing” (QS. al-Isr?’: 84). Karena itu, pendidikan tidak boleh menyeragamkan potensi, tetapi harus menggali, mengembangkan, dan mengarahkannya menuju kebaikan. Pendidikan Gontor merupakan pendidikan holistik yang mengembangkan head, heart, dan hand: kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual dan akhlak, serta keterampilan praktis. Semua itu harus disertai hid?yah dari Allah. Berbagai fasilitas dan sarana pendidikan perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan santri secara luas. Cita-cita pengembangan fasilitas, seperti kolam renang, olahraga berkuda, memanah, dan menembak, harus berjalan seiring dengan penguatan hafalan Al-Qur’an dan hadis serta penguasaan bahasa Arab dan Inggris. Hal-hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil apabila direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara disiplin. Kemampuan akademik, spiritual, bahasa, olahraga, dan keterampilan tidak harus saling meniadakan; semuanya dapat berkembang secara terpadu.
Mendidik Kader untuk Menjawab Tantangan Zaman
Santri harus digembleng, dibina, dan diberi kesempatan untuk mengembangkan berbagai kecakapan agar siap berjuang di tengah masyarakat. Pendidikan bukan sekadar mempersiapkan seseorang untuk lulus ujian, memperoleh ijazah, atau menduduki jabatan, melainkan menyiapkannya agar mampu menjalankan amanah dan memberi manfaat. Pernah ada santri pada tahun 1960-an yang dalam latihan pidato menyampaikan harapan agar suatu hari dapat berpidato di gedung parlemen. Beberapa tahun kemudian, harapan itu benar-benar terwujud. Kisah tersebut mengajarkan pentingnya keberanian bercita-cita, latihan yang berkesinambungan, dan kesiapan memanfaatkan kesempatan. Setiap masa memiliki tokohnya, setiap tokoh memiliki masanya, setiap masa menghadapi masalahnya, dan setiap masalah menuntut solusi. Oleh sebab itu, Gontor harus terus mendidik generasi yang berilmu, berakhlak, terampil, disiplin, dan siap menjawab tantangan zaman. Santri hari ini adalah calon pemimpin masyarakat esok hari; maka persiapannya harus dimulai sekarang, melalui kesungguhan belajar, keteladanan, pengorbanan, dan pengabdian.
Penutup
Jaga maziyah dan mizah Gontor dengan disiplin yang hidup, bukan sekadar aturan yang tertulis. Hormati waktu, rawat kesehatan, kuatkan ibadah, kembangkan potensi, dan persiapkan diri untuk mengabdi. Disiplin yang benar melahirkan kesadaran; kesadaran yang kokoh melahirkan karakter; dan karakter yang kuat melahirkan pemimpin yang amanah. Gontor tidak hanya mendidik santri untuk mengetahui, tetapi untuk mampu melakukan; tidak hanya untuk mampu melakukan, tetapi untuk berani mengabdi; dan tidak hanya untuk mengabdi, tetapi untuk terus menghadirkan solusi bagi umat dan bangsa.
(Disusun ulang oleh Ahmad Suharto dengan penyesuaian redaksional dengan Bahasa tulisan yang tidak merubah substansi kandungan isinya.)






