Darul Falah Cimenteng : Pondok Wakaf Lintas Marhalah

  • Reading Time: 3 mins
  • - view: 12

SUBANG – Sabtu, 9 Mei 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi Pondok Modern Darul Falah Cimenteng. Di tengah hamparan hijau tanah Subang, sebuah fragmen persaudaraan khas santri tersaji dengan indah. Angka tahun—1985 dan 1992—yang biasanya menjadi penanda jarak senioritas, siang itu luruh sepenuhnya, digantikan oleh hangatnya pelukan ukhuwah.

Tamu yang datang bukanlah sosok sembarangan. Al-Ustadz Muhammad Chofadh, Direktur Roumah Wakaf Yayasan Hidayatullah Surabaya, hadir membawa semangat dari Timur Jawa. Ia tak sendiri, didampingi oleh Ustadz Budi Agus Syahrid, seorang pegiat dakwah yang gigih bergerak di Bumi Lampung, Ustadz Ibrahim Lawi dari Bekasi, serta Ustadz Budi Utomo. Keempatnya adalah alumni Gontor angkatan 1985—para senior yang datang untuk menilik “medan tempur” yunior mereka, H. Agus Maulana (angkatan 1992), yang kini menahkodai Pondok Modern Darul Falah Cimenteng bersama Ustadz Komaruddin. 

Menyesap Manisnya Wakaf di Dafa Dreamland

Perjalanan bermula dari diskusi hangat di kediaman Ustadz Agus Maulana sebelum akhirnya rombongan bergeser menuju pondok. Di sana, Al-Ustadz Komarudin, yang diamanahi memimpin pondok, sudah menunggu dengan senyum khas kekeluargaan. Tak ada kaku protokoler; yang ada hanyalah obrolan mengalir layaknya kakak dan adik yang lama tak bersua meski terpisah jarak antara Surabaya, Lampung, Bekasi dan Subang.

Langkah kaki kemudian membawa mereka menyusuri kawasan Dafa Dreamland, sebuah kawasan wakaf produktif seluas 25 hektar.  Di sini, narasi perjuangan bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Mereka menyaksikan barisan pohon nanas yang mulai berbuah, alpokat dan durian, ratusan pohon aren, progres pembangunan camping ground, hingga sebuah momen simbolis: menyesap segelas air nira (gula aren) segar.

Air nira itu bukan sekadar penghilang dahaga. Ia adalah bukti nyata bagaimana wakaf produktif diolah dari rahim bumi Cimenteng untuk menghidupi kemandirian pesantren. Di sela-sela tegukan air nira, para tamu melihat sebuah visi: pesantren yang tidak hanya meminta, tapi memberi; pesantren yang berdaya secara ekonomi untuk melayani umat. 

Nasihat dari “Singa” Senior

Menjelang sore, suasana berubah khidmat di ruang pimpinan. Di hadapan para asatidz dan ustadzah muda, Ustadz Muhammad Chofadh tumpah ruah berbagi rasa. Ada binar kebanggaan di matanya saat menatap wajah-wajah muda di depannya.

“Saya berbesar hati melihat anak-anak muda ini mengabdikan diri untuk sesuatu yang besar: memuliakan kalimat Allah,” ujarnya lirih namun bertenaga.

Beliau memutar kembali jarum sejarah, membangkitkan spirit Usamah bin Zaid sang panglima muda, hingga keteguhan Saifuddin Qutuz saat memukul mundur pasukan Mongol. Pesannya jelas: usia muda adalah masa untuk “melampaui batas kemampuan diri”.

Senada dengan itu, Ustadz Budi Agus Syahrid turut memberikan suntikan motivasi. Pegiat dakwah asal Lampung ini memetik kembali memori kolektif tentang pesan legendaris KH. Imam Zarkasyi: bahwa kebanggaan sejati seorang guru bukan terletak pada jabatan muridnya, melainkan pada kesediaan mereka menjadi pejuang yang mengajarkan al-Fatihah di pelosok-pelosok sunyi.

Mimpi Besar dari Cimenteng

Sebagai tuan rumah, Ustadz Agus Maulana menutup pertemuan dengan sebuah refleksi mendalam. Baginya, Darul Falah adalah bentuk “wakaf diri”. Meski berangkat dari keterbatasan, ia bermimpi Cimenteng akan menjelma menjadi lembaga yang tertata seanggun Gontor. Membangun generasi yang Kuat, Taat dan Bermanfaat. “Semangat anak muda itu harus seperti kuda perang. Selalu siap berjuang kapan pun dan di mana pun,” tegasnya. 

Kunjungan hari itu pun berakhir, namun gairahnya tertinggal di Cimenteng. Pertemuan lintas marhalah ini menjadi pengingat bahwa di jalan dakwah, tak ada yang benar-benar berjuang sendirian. Darul Falah menjadi lahan perjuangan dan dakwah yang terbuka dan amanah bagi semua pihak. 

Artikel Sebelumnya : Transformasi Pembelajaran di Era Digital: Workshop AI Design Creator Bekali Guru dan Santri dengan Kreativitas Berbasis Teknologi

Oleh: Tim Media Center

Pondok Modern Darul Falah Cimenteng.