ai walter writes humanizer
Pisang dari Kiai - darulfalah

Pisang dari Kiai

  • Reading Time: 8 mins
  • - view: 6

Oleh: Azmi Zarkasyi

Darul Falah Cimenteng, Subang – 20 Oktober 2026

Suasana di dalam mobil kala itu pasti dipenuhi rasa canggung yang membeku.

Tahun-tahun telah berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Waktu itu aku masih sangat kecil dan belum mengerti betapa berharganya sebuah momen yang belakangan baru kuketahui dari penuturan K.H. Agus Maulana (Ustaz Agus) sendiri.

Kala itu, Ustaz Agus masih menjadi santri kelas lima (kelas sebelas SMA) di Pondok Modern Darussalam Gontor. Bersama teman-temannya di forum kajian ilmiah bernama ‘Itqan’, beliau mendapat tugas penting untuk mewawancarai Bapak—K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi—terkait Gontor. Membayangkan harus berhadapan langsung dengan Pimpinan Pondok saja sudah membuat degup jantung para santri muda itu berpacu cepat. Namun, apa yang terjadi kemudian di luar dugaan mereka. Bapak tidak hanya menerima wawancara itu di dalam ruangan, tetapi juga mengajak Ustaz Agus dan teman-temannya naik mobil untuk berkeliling pondok.

Di sepanjang jalan, Bapak menyetir sendiri kendaraannya sembari menerangkan dengan penuh semangat tentang Gontor beserta unit-unit usaha yang ada di dalamnya. Bagi seorang santri, duduk di dalam satu mobil bersama Pimpinan Pondok—terlebih sang Kiai sendiri yang berada di balik kemudi—memicu rasa takzim luar biasa bercampur canggung yang teramat sangat.

Ustaz Agus bercerita bahwa duduk di samping Bapak hari itu membuatnya serba salah. Menatap lurus ke depan terasa canggung, sedangkan menoleh ke arah Bapak pun terasa segan. Ada rasa hormat dan tidak enak hati yang bercampur jadi satu—tak sepatutnya seorang murid duduk manis sementara sang guru bersusah payah mengemudikan kendaraan.

Namun, Bapak selalu tahu cara memecahkan kekakuan tanpa perlu banyak kata-kata menggurui. Di tengah perjalanan itu, Bapak mulai membuka percakapan dan mengikis dinding kecanggungan di dalam kabin mobil.

Lalu, momen sederhana itu terjadi. Bapak meraih sesisir pisang yang ada di dalam mobil. Tanpa sekat formalitas, Bapak mengambil buah pisang itu, menyerahkannya kepada Ustaz Agus, lalu mengambil satu lagi untuk beliau nikmati sendiri. Mereka makan pisang bersama di sepanjang jalan. Seketika, kehangatan antara guru dan santrinya menggantikan rasa canggung yang sebelumnya menyelimuti suasana.

Waktu terus bergulir. Aku tumbuh dewasa, dan takdir Allah menggariskan Bapak berpulang ke Rahmatullah. Meski Bapak telah tiada, ingatan tentang sepotong pisang di dalam mobil itu rupanya tidak pernah pudar dari benak Ustaz Agus Maulana.

Hingga pada suatu hari, takdir Allah mempertemukan kami kembali lewat alur yang sungguh tidak disangka.

Saat ini, aku mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah. Suatu ketika, aku mendapat tugas mendampingi para mahasiswi melaksanakan Praktik Pengayaan Lapangan (PPL) di Pondok Pesantren Darul Falah, Cimenteng, Subang. Ustaz Agus membina pesantren tersebut. Pesantren ini memiliki areal yang sangat luas dan berdiri anggun di tengah bentang alam yang asri dan berbukit dengan udara sejuk. Bangunan-bangunannya berdiri megah mengikuti arsitektur Allah yang begitu indah.

Pondok Pesantren Darul Falah ini memiliki seorang pemimpin yang luar biasa, Ustaz Komarudin. Hal yang membuatku sangat heran dan takjub adalah kenyataan bahwa Ustaz Komarudin sebenarnya bukanlah alumni Gontor. Namun, ketika Ustaz Agus mengajaknya bersama-sama mengembangkan pondok ini, beliau menyambut ajakan tersebut dengan keterbukaan hati yang luar biasa. Beliau bahkan sangat bersemangat memimpin dan menjalankan roda pendidikan di sana.

Yang lebih mengagumkan, pesantren ini menerapkan seluruh sistem dan napas pendidikan yang berkiblat penuh pada nilai-nilai Gontor—mulai dari sistem wakaf, kaderisasi, hingga kurikulum holistiknya. Padahal, Ustaz Agus sendiri hanya menimba ilmu sekitar empat tahun di Gontor sebelum melanjutkan pendidikan tingginya di luar. Namun, keterpaduan visi antara Ustaz Agus dan Ustaz Komarudin membuat nilai-nilai keteladanan itu hidup dengan begitu indahnya di Cimenteng.

Ketika mendengar kedatanganku untuk mendampingi para mahasiswi PPL, Ustaz Agus menyambutku dengan antusiasme luar biasa dan berkenan hadir langsung pada berbagai kegiatan di sana.

Hingga pada suatu malam, di tengah kesibukanku membimbing para mahasiswi, sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ustaz Agus. Beliau mengundangku untuk berkunjung ke rumahnya di Kota Subang.

“Ah, mungkin diajak makan di sekitar kota Subang,” pikirku santai.

Ternyata dugaanku meleset jauh. Pagi itu, seorang ustaz pengabdian Gontor, Ustaz Albi, mengantarku dengan mobil pondok menuju kediaman beliau. Sesampainya di sana, kami mengobrol hangat sembari menyeruput kopi racikan Ustaz Agus sendiri. Di tengah obrolan, beliau tiba-tiba menyampaikan rencana yang sungguh di luar dugaanku.

“Jadi begini Ustaz Azmi, karena antum sewaktu acara napak tilas dahulu belum sempat ikut mengunjungi buyut antum, Sunan Gunung Jati, jadi kita akan ke Cirebon pagi ini. Kita mampir ketemu Ustaz Shefi, alumni Gontor yang punya pondok dan pabrik di sana, kemudian kita bareng ke makam Sunan Gunung Jati.”

Pagi itu, setelah beberapa saat mengobrol, Ustaz Agus bergegas bersiap-siap bersama istri. Ketika seseorang membuka pintu garasi… Wah, masya Allah! Sebuah mobil BMW sedan keluaran terbaru tampak terparkir gagah di dalamnya.

Rasa canggung seketika makin menguat. Sebenarnya aku ingin menawarkan diri untuk menyetir, tetapi melihat mobil sedan sekelas BMW mewah itu, nyaliku agak ciut—aku khawatir dan merasa serba salah, takut terjadi apa-apa di jalan jika aku yang memegang kendali.

Akhirnya, Ustaz Agus sendiri yang duduk di balik kemudi. Beliau memintaku duduk di kursi penumpang di sampingnya, sementara istri beliau duduk santai di kursi belakang.

Meskipun agak segan, aku memberanikan diri berkata kaku, “Afwan Ustazi, biar saya saja yang menyetir. Ana enggak enak antum setirin.”

Beliau tidak langsung melepas kemudi. Malah, beliau justru tersenyum tipis, lalu menepuk pahaku pelan sambil berkata, “Yaa… itu dulu yang ana rasakan ketika ana disetirin bapak antum dulu.”

Pecah! Suasana yang tadinya kaku seketika cair oleh gelak tawa. Aku hanya bisa tertawa pasrah sekaligus haru. Takdir sedang memainkan adegan kilas balik yang sangat manis. Dahulu Bapakku yang menyetiri beliau, dan kini giliran beliau yang menyetiri anak dari Kiainya.

Sepanjang perjalanan Subang–Cirebon, kami terus mengobrol dan bercerita. Di tengah perjalanan, Ustaz Agus sempat menceritakan kisah awal mula pertemuannya dengan Ustaz Komarudin—tentang bagaimana Allah mempertemukan dua hati yang sama-sama mencintai dunia pendidikan agama hingga akhirnya mereka bahu-membahu membangun Darul Falah.

Di tengah deru mesin BMW yang melaju halus di jalan tol, ingatan tentang Bapak pun membuncah di dalam dadaku. Aku lalu menceritakan sebuah kisah yang pernah kudengar dari keluarga.

“Pernah suatu ketika, Bapak ‘curhat’ kepada Kiai Adrian,” ucapku pelan. “‘Bagaimana ya anak-anak saya nanti? Siapa yang akan mengajar dan memperhatikan mereka, sementara saya sibuk di pondok dan di luar?'”

Aku menghentikan kalimatku sejenak dan menahan getar di tenggorokan. “Lalu Kiai Adrian menjawab pendek namun sangat dalam: ‘Insya Allah, Yang akan mengajar dan memperhatikan mereka nanti Allah, Pak Kiai.’“

Seketika, suasana kabin mobil kembali hening. Momen itu membuatku terdiam. Ada air mata yang merembes hangat di sudut mataku. Aku berusaha sekuat tenaga menahannya agar tak jatuh. Di kursi belakang, aku bisa merasakan istri beliau pun ikut terenyuh dan terdiam haru mendengar janji Allah atas keikhlasan seorang pengabdi umat.

Sesampainya di Cirebon, tuan rumah mengajak kami berkeliling melihat pabrik pembuatan kecap dan saus milik Ustaz Shefi dan keluarga yang masya Allah sangat besar. Kami juga bersilaturahmi dengan ibu beliau yang sudah berumur 90-an tahun, tetapi masya Allah masih sangat sehat. Saat menikmati sajian nasi kabsyah kambing yang amat lezat di restoran beliau, Ustaz Agus menceritakan kembali kisah pisang itu kepada Ustaz Shefi sambil berseloroh, “Barangkali saya cuma sebentar di Gontor, tapi ilmu ‘Gontor’ saya menurut Ustaz Azmi ‘Gontor Banget’, ini kayaknya gara-gara dikasih pisang sama Pak Kyai Syukri.” Kami pun tertawa lebar bersama.

Setelah berziarah dan berdoa di Makam Sunan Gunung Jati, kami bersiap pulang. Kali ini aku memberanikan diri mengambil alih kemudi. Namun, sebelum mobil masuk ke pintu tol menuju Subang, tiba-tiba beliau memintaku menepi di sebuah minimarket.

Pikirku, mungkin beliau hendak ke toilet atau membeli camilan. Beliau meminta aku dan istri beliau menunggu di mobil. Beberapa saat kemudian, beliau keluar membawa sesisir pisang di tangannya.

“Alhamdulillah, ternyata ada pisangnya,” ungkap beliau begitu masuk mobil.

Melihat pisang itu, tawa kami di dalam mobil seketika pecah. Istri beliau menggelengkan kepala sambil tertawa hangat, “Aya-aya wae Papa mah…”.

Rupanya, Ustaz Agus sengaja membeli pisang itu untuk mengulang momen puluhan tahun silam—kali ini bersama anak dari Kiainya.

Sesampainya di kediaman beliau di Subang, beliau memintaku bertukar posisi. Aku kembali ke kursi penumpang dan Ustaz Agus duduk di kursi sopir. Kami berdua lalu mengupas pisang dan memakannya bersama di dalam mobil, sementara Ustaz Albi, yang sudah datang menjemputku di rumah beliau, mengabadikan momen langka itu lewat kamera ponselnya.

Momen hari itu terasa begitu magis. Kata-kata Kiai Adrian terbukti nyata. Ketika seorang hamba mewakafkan hidupnya untuk mengajar anak-anak orang lain di jalan Allah, maka Allah sendiri yang menjamin pendidikan dan pengajaran anak-anaknya lewat tangan-tangan hamba-Nya yang ikhlas—termasuk lewat perantara Ustaz Agus, Ustaz Komaruddin, dan tokoh-tokoh mulia lainnya.

Bapak memang telah wafat, tetapi keteladanan, kerendahan hati, dan benih kebaikan yang beliau tanam lewat sepotong pisang di dalam mobil puluhan tahun lalu kini melingkar sempurna—membimbingku, mengajariku, dan menjadi jalinan silaturahmi yang takkan pernah padam. Rahimahullah Rahmatan Wasi’ah.

Oleh: Tim Media Center

Pondok Modern Darul Falah Cimenteng.