ai walter writes humanizer
Di Bawah Asuhan Gontor - darulfalah

Di Bawah Asuhan Gontor

  • Reading Time: 6 mins
  • - view: 9

Yudi Latif

Dalam suasana peringatan satu abad Pesantren Modern Gontor Ponorogo, izinkan saya menengok sejenak ke belakang—ke suatu masa ketika perjalanan hidup masih dalam periode formatif, ketika watak, minat, pikiran dan pandangan tentang dunia sedang mencari bentuknya. Pada titik itulah Gontor menjadi kebun persemaian jatidiri.

Maka, pada kesempatan centennial anniversary yang istimewa ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, dengan segala kerendahan hati, kepada ibu almamaterku tercinta: Gontor Darussalam.

Saya memang tidak sempat menamatkan pendidikan di pondok ini. Ada alasan personal yang membuat perjalanan saya harus berbelok sebelum sampai di garis akhir. Namun, dalam riwayat pendidikan saya, nama Gontor tetap saya sematkan dengan penuh kebanggaan. Sebab, ada tempat yang tidak perlu kita tinggali sampai tamat untuk menjadi bagian dari diri kita. Ada tempat yang mungkin hanya kita singgahi dalam suatu masa, tetapi jejaknya menetap jauh lebih lama daripada masa tinggal kita di sana.

Gontor adalah salah satu tempat itu.

Saya tak bisa membayangkan apa jadinya perjalanan intelektual saya tanpa pernah sempat menyusu kepada ibu Gontor. Sebab di sana saya bukan hanya menerima pelajaran, melainkan memperoleh bekal untuk menempa karakter, menata cara belajar, cara hidup bersama orang lain, dan cara memandang dunia dengan cakrawala yang lebih luas.

Saya berangkat dari latar keluarga dan lingkungan pengikut Nahdlatul Ulama. Di Gontor, untuk pertama kalinya saya berjumpa dan bersahabat dengan teman-teman santri yang datang dari latar keislaman yang berbeda. Perjumpaan itu, yang pada mulanya mungkin tampak sederhana, kelak menjadi salah satu pengalaman penting dalam pembentukan pandangan hidup saya.

Dengan kredonya, “Berdiri di atas dan untuk semua golongan,” Gontor mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak. Ia dapat menjadi ruang perjumpaan, tempat orang belajar mengenal satu sama lain tanpa harus kehilangan preferensinya masing-masing.

Bagi saya, Gontor adalah salah satu persemaian awal toleransi intraagama. Dari pengalaman hidup bersama dalam keberagaman internal itu, di kemudian hari, sayap-sayap toleransi saya terus melebar menjangkau pergaulan lintas agama dan keyakinan.

Saya belajar bahwa kita tidak akan sungguh-sungguh memahami keluasan dunia jika hanya bersedia hidup di antara orang-orang yang selalu berpikir seragam.

Ibarat pohon yang baik, Gontor menanamkan akar karakter yang kuat, sembari meninggikan dan memperluas tajuk pengetahuan. Akar membuat seseorang teguh berpijak; tajuk membuat pengetahuannya tumbuh menjulang sekaligus menjangkau horison yang lebih luas.

Di Gontor saya mulai belajar tentang disiplin dan manajemen waktu. Disiplin berbahasa “asing” (Arab dan Inggris dialek Gontor), disiplin waktu untuk bangun, shalat, makan, sekolah, belajar, mengembangkan minat dan bakat, berolahraga, menikmati hiburan, dan beristirahat. Kehidupan sehari-hari ditata dalam irama yang teratur, sehingga waktu tidak sekadar berlalu, tetapi diberi bentuk dan tujuan.

Disiplin semacam itu ternyata meninggalkan jejak yang panjang. Bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan pondok, ritme kehidupan (cyrcadian rhythm) saya masih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan yang terbentuk di sana. Seakan-akan jam kehidupan yang ditanamkan Gontor terus berdetak dalam diri, jauh setelah saya meninggalkan halaman pondok.

Dari keteladanan para kiai dan pengasuh Gontor, saya juga belajar tentang keikhlasan. Bukan sekadar sebagai konsep yang diajarkan, tetapi sebagai sikap hidup yang dicontohkan.

Saya belajar tentang sikap hidup ugahari: tahu merasa cukup, tidak berlebihan dalam mengejar kepemilikan, dan tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran keberhasilan. Saya belajar pula bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Pelajaran semacam ini barangkali tidak mudah ditemukan dalam buku teks. Ia tumbuh dari keteladanan, dari suasana, dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang hingga perlahan menjadi bagian dari watak.

Pendidikan di Gontor juga memperkenalkan kepada saya keluasan wawasan seorang generalis: belajar ilmu agama dan ilmu umum sekaligus, tanpa harus mendikotomikan keduanya. Di sana saya ditempa untuk berkonsentrasi, menangkap bahan ajar dengan cepat, dan mengingatnya dengan tepat.

Kebiasaan itu kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan intelektual saya. Saya menjadi lebih terbiasa menjelajah berbagai bidang pengetahuan, mempertemukan gagasan yang datang dari disiplin yang berbeda, dan melihat persoalan dari ragam sudut pandang.

Saya menyadari bahwa pengetahuan tidak seharusnya menjadi kamar-kamar yang saling terpisah. Ia lebih menyerupai sebuah tajuk yang terus meninggi dan meluas, membuka semakin banyak ruang untuk memahami dunia.

Kemampuan artikulasi pun ditempa di sana.

Kekayaan peribahasa Arab melalui mahfudzot memperkaya perbendaharaan bahasa dan gagasan. Latihan muhadharah (public speaking) dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris melatih keberanian untuk berdiri dan berbicara di hadapan orang banyak. Dari sana saya belajar menyusun pikiran, memilih kata, mengatur logika, dan membangun retorika.

Kelak saya menyadari bahwa keberanian berbicara di depan umum tidak semata-mata lahir dari bakat. Ia juga lahir dari latihan yang terus-menerus, dari kebiasaan mengatasi rasa gugup, dan dari pengalaman menyampaikan gagasan di hadapan orang lain.

Pelajaran logika (mantiq) memberi disiplin pada jalan pikiran; muhadharah memberi jalan bagi pikiran itu untuk menemukan suaranya.

Namun Gontor bukan hanya menjadi persemaian bagi intelektualitas saya. Ia juga menyediakan tanah yang subur bagi sisi puitik dan sastrawi dalam pengucapan saya.

Di sana saya mulai merasakan bahwa kata-kata tidak hanya berguna untuk menyampaikan pikiran. Kata-kata juga memiliki irama, daya bayang, dan kemampuan untuk menyentuh perasaan manusia.

Ada ruang untuk membacakan karya sastra di hadapan khalayak santri serayon setelah olahraga lari bersama pada Jumat pagi. Ada lomba baca puisi pada awal tahun ajaran. Dalam salah satu kesempatan itu, saya pernah menjadi juara—sebuah pengalaman yang membuat nama saya sontak terkenal di seantero jagat pondok.

Saya juga pernah memimpin Teater Islam Darussalam (Terisda). Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan estetika saya. Dari panggung teater, saya belajar bahwa gagasan tidak selalu harus disampaikan melalui uraian; kadang ia dapat menemukan jalan melalui gerak, suara, karakter, simbol, dan keindahan.

Di sanalah saya mulai memahami bahwa estetika bukan sekadar perkara memperindah kehidupan. Ia adalah salah satu cara manusia mencari dan mengungkapkan makna.

Semua itu, sedikit demi sedikit, menjadi benih-benih yang ditanam dalam masa muda.

Baru setelah perjalanan membawa saya semakin jauh, saya menyadari bahwa benih-benih itu terus bekerja dalam diam. Pendidikan rupanya tidak selalu menunjukkan buahnya seketika. Ada yang tumbuh perlahan, mengikuti musim kehidupan, dan baru terasa maknanya ketika kita telah cukup jauh meninggalkan tanah tempat ia disemai.

Demikianlah Gontor bagi saya.

Saya memang tidak sempat menamatkan pendidikan di sana. Namun, masa yang singkat itu telah meninggalkan jejak yang panjang. Ada bagian dari diri saya hari ini yang tidak mungkin saya pisahkan dari pengalaman pernah menjadi santri Gontor.

Masih banyak yang belum terungkap, dan mungkin memang tidak semuanya perlu diungkap. Sebab rasa terima kasih kepada sebuah tempat yang pernah membentuk kita selalu lebih luas daripada kata-kata yang sanggup kita susun.

Maka kepada para kiai pengasuh, para guru, dan seluruh sahabat yang pernah menjadi bagian dari masa itu, saya haturkan terima kasih. Apa yang telah diberikan mungkin dahulu terasa sebagai keseharian, tetapi waktu membuat saya semakin memahami nilainya.

Dan kepada Gontor, ibu almamaterku, terima kasih karena pernah menjadi tanah tempat saya bertumbuh.

Semakin jauh saya berjalan, semakin saya mengerti: kita boleh meninggalkan sebuah tempat, tetapi apa yang telah disemainya dalam diri kita dapat terus tumbuh ke mana pun langkah membawa.

Selamat satu abad, Gontor.

Semoga ladang persemaian ini terus subur, musim berganti tanpa mengeringkan akarnya, dan generasi demi generasi menemukan di dalamnya bekal untuk menumbuhkan kehidupan yang lebih bermakna.

Terima kasih, Gontor.

Untuk segala yang telah disemai—dan untuk segala yang kelak masih akan tumbuh darinya.

Oleh: Tim Media Center

Pondok Modern Darul Falah Cimenteng.