ai walter writes humanizer
ASWABI: Aswaja Wahabi - darulfalah

ASWABI: Aswaja Wahabi

  • Reading Time: 4 mins
  • - view: 9

Ahmad Ghozali Fadli

Sumber: Republika

“Saya ini orang bebas. Orang bilang Muhammadiyah agak Wahabi dikit … tapi menantu saya NU kabeh, Pak. Akhirnya saya mendapat titel baru: Hasan Abdullah Aswabi. Aswaja-Wahabi.”

Kalimat KH Hasan Abdullah Sahal itu mengundang tawa dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, 19 September 2026. Tetapi seperti banyak guyonan kiai, sesuatu yang terdengar ringan sering menyimpan persoalan yang jauh lebih dalam.

“Aswabi”—Aswaja-Wahabi—tentu bukan mazhab baru. Kiai Hasan sedang bergurau tentang label yang kerap ditempelkan kepada seseorang hanya karena cara beragama, lingkungan, pendidikan, atau afiliasi organisasinya. Dalam pidato yang sama, beliau menegaskan bahwa anak NU masuk Gontor, Ketika keluar tetap sebagai NU, sebagaimana anak Muhammadiyah masuk Gontor Ketika keluar tetap sebagai Muhammadiyah. Gontor memilih wilayah yang lebih mendasar: iman, Islam, dan ihsan.

Di sinilah “Aswabi” menarik direnungkan.

Sebutan Wahabi di tengah masyarakat sering dilekatkan kepada orang yang dianggap sangat menekankan dalil Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung. Penyederhanaan semacam ini tentu tidak sepenuhnya tepat. Sebab menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan bukan milik satu kelompok. Semua umat Islam mengakuinya. Yang berbeda biasanya adalah metode memahami dan menerapkan dalil.

Jika kedekatan dengan Al-Qur’an menjadi salah satu alasan seseorang dengan mudah disebut “Wahabi”, sosok Kiai Hasan justru memberikan ironi yang menarik. Selain menjadi Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sejak 1985, beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Tahfidzul Qur’an Al-Muqoddasah di Nglumpang, Mlarak, Ponorogo, yang didirikan pada 1992. Artinya, Al-Qur’an menjadi bagian dari lembaga pendidikan yang beliau bangun dan asuh selama puluhan tahun.

Lalu bagaimana dengan NU?

Di sinilah kita juga perlu berhati-hati terhadap label yang bergerak ke arah sebaliknya. NU kadang digambarkan sebagai kelompok tradisional yang hanya mengikuti ulama dan mazhab, bahkan oleh sebagian orang dituduh melakukan taqlid buta. Seolah-olah bermazhab berarti menjauh dari Al-Qur’an. Padahal, jika kita kembali kepada dokumen dasar yang diwariskan pendiri NU, gambaran itu menjadi sangat berbeda.

Bacalah Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Pembukaannya justru dipenuhi ayat Al-Qur’an. Jadi, NU dibangun dari cara memahami Al-Qur’an melalui tradisi keilmuan.

Di sinilah letak perbedaan yang sering gagal dipahami. Bermazhab bukan berarti mengganti Al-Qur’an dengan pendapat manusia. Bermazhab adalah kesadaran bahwa memahami Al-Qur’an dan Sunnah membutuhkan ilmu, metodologi, sanad keilmuan, penguasaan bahasa, ushul fikih, dan kemampuan yang tidak selalu dimiliki setiap orang.

Maka mempertentangkan “orang Al-Qur’an” dengan “orang Aswaja” sebenarnya dapat menyesatkan sejak titik awal. Aswaja juga berangkat dari Al-Qur’an. Yang membedakannya adalah jalan keilmuan dalam memahami Al-Qur’an. Di sinilah guyonan “Aswabi” terasa semakin bernilai.

Mungkin Kiai Hasan sedang mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat memasukkan manusia ke dalam kotak-kotak. Seseorang dapat sangat mencintai Al-Qur’an tanpa harus kehilangan penghormatannya kepada tradisi. Seseorang dapat bermazhab tanpa harus berhenti berpikir. Seorang santri dapat belajar di Gontor tanpa harus meninggalkan NU. Seorang Muhammadiyah dapat duduk bersama seorang Nahdliyin tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Yang lebih penting, daripada bertanya, “Anda kelompok mana?”, barangkali bisa diubah dengan bertanya: “Apa landasan cara berpikir Anda?”

Pertanyaan terakhir inilah yang membawa saya kembali kepada Muqaddimah Qanun Asasi.

Selama ini Qanun Asasi lebih sering disebut daripada dibaca. Padahal apabila kita menelusuri ayat demi ayat yang diletakkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam muqaddimahnya, kita dapat menemukan suatu fondasi berpikir yang sangat kuat.

Dari kegelisahan itulah saya menyusun NU Mindset.

Buku NU Mindset berusaha mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dalam Muqaddimah Qanun Asasi dan membacanya bukan sekadar sebagai teks pembuka organisasi, tetapi sebagai fondasi cara berpikir Nahdlatul Ulama: bagaimana memandang kehidupan, menentukan sikap, bergerak, dan akhirnya melakukan muhasabah atas apa yang telah dikerjakan.

Karena NU tidak cukup diwarisi namanya. NU harus diwarisi cara berpikir pendirinya.

Jika ingin mengetahui NU hanya sebagai organisasi, kita bisa membaca struktur, AD/ART, atau sejarah kepengurusannya. Tetapi jika ingin melihat NU lebih dekat dengan cita-cita pendirinya, kita perlu kembali kepada Qanun Asasi, kepada ayat-ayat yang dipilih Hadratussyekh, dan kepada pesan yang hendak dibangunnya melalui Al-Qur’an. Dan salah satu ikhtiar untuk membacanya kembali adalah NU Mindset.

Artikel sebelumnuya : Satu Abad Gontor dan Pertanyaan yang tak Pernah Usai